Jangan Mengukur Baju Dengan Badan Orang Lain

April 16, 2008 at 3:43 am (Wise Word) (, )

Alkisah seorang pengusaha sukses sedang berlibur ke suatu pantai bersama keluarganya. Setelah seharian menikmati keindahan pantai dia berjalan menyusuri pantai menikmati indahnya sunset. Ketika berjalan pandangannya dihentikan oleh aktivitas seorang nelayan yang baru pulang melaut. Dengan rasa penasarannya si pengusaha langsung menghampiri si nelayan yang lagi sibuk menurunkan hasil tangkapannya dari perahu kecilnya.

“selamat sore Pak?” tanya si pengusaha.
“sore…” jawab si nelayan dengan tetap sibuk dengan aktivitasnya.
“gimana hasil tangkapan hari ini Pak?”
“ya… lumayan, yang penting cukup buat lauk makan keluarga”
“memangnya Bapak menangkap ikan hanya untuk mencari lauk makan?”
“iya, hanya sedikit yang kami jual untuk kebutuhan keluarga yang lain”
“kenapa hanya sedikit yang dijual?”
“kami sekeluarga sudah merasa cukup dengan apa yang kami peroleh”
“wah… sayang sekali Pak!?” sambil merasa bangga dengan sense of businessnya
“sayang sekali gimana maksud Bapak?” dengan penuh rasa penasaran
“bukanya dengan mencari ikan yang banyak Bapak juga bisa menjual hasil tangkapan yang banyak pula? dengan hasil jualan yang banyak berarti Bapak akan memiliki uang yang banyak. Dengan uang yang banyak Bapak bisa membeli perahu yang baru dan yang lebih besar. Dengan perahu yang bagus Bapak bisa menangkap ikan lebih banyak lagi yang berarti uang yang lebih banyak pula. Bapak bisa membeli beberapa perahu, dan bapak tidak perlu melaut lagi. Bapak bisa mempekerjakan beberapa nelayan.” begitu bersemangat menjelaskan ide bisnisnya.
“lalu…???” sambil agak bingung ditambah rasa penasaran
“Nah… Kalau Bapak sudah kaya, Bapak bisa lebih menikmati hidup seperti saya. Berlibur, memangcing, menikmati sore di pantai. Bukankah itu menyenangkan?”
“betul…. betul sekali Pak. Tapi itu khan yang saya kerjakan tiap hari, lalu kenapa mesti jadi kaya dulu untuk bisa menikmati hidup? Toh dengan kondisi yang seperti ini saya bisa menikmati hidup”
“ehm…” Si pengusaha merasa malu karena ide bisnisnya ternyata bisa dipatahkah oleh seorang nelayan.

Nah, sebetulnya apa yang kita rasa cocok belum tentu cocok untuk orang lain dan itu yang sering kurang kita sadari. Kekurangan kita bersyukur bisa menjadi boomerang yang selalu membuat kita tamak dan kurang dengan apa yang telah kita peroleh. Memang rasa tidak puas adalah sifat dasar manusia, tapi apakah kita mesti mendewakan nafsu dalam mengejar duniawi? i don’t think so… Jadi seperti cerita di atas “Jangan Mengukur Baju dengan Badan Orang Lain” kalo orang jawa bilang semua itu Sawang Sinawang, apa yang kita lihat menyenangkan belum tentu menyenangkan bila kita yang mengalaminya. 

Advertisements

Permalink 1 Comment